Review Game Call of Duty

0 Comments
Review Game Call of Duty

Demam game online kelihatannya sudah mulai menjangkiti pengembang dan penerbit game barat. Bisa dilihat dari Call of Duty: Mobile, game garapan Tencent yang diterbitkan oleh Activision untuk pasar global, serta Garena di pasar Asia Tenggara.

Nama Call of Duty (CoD) tentunya sudah taka sing lagi bagi penggemar game shooter. Waralaba satu ini juga sudah cukup melegenda di ranah konsol maupun PC. Sayangnya, pamornya perlahan meredup seiring munculnya berbagai game battle royale seperti PUBG.

Game Call of Duty, Bukan Battle Royale?

Review Game Call of Duty

Ada satu hal penting yang wajib kalian ketahui dari Call of Duty: Mobile. Jangan sampai salah kaprah mengira game ini mengandalkan battle royale. Justru, mode Deathmatch lah yang justru jadi fitur utama game ini.

Saat pertama kali main, kalian akan disuguhkan dengan mode multiplayer bernama frontline. Mode ini kurang lebih sama dengan mode utama game shooter lain seperti Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO) atau Point Blank (PB).

Kalian juga akan bermain 5 VS 5 dan wajin menghabisi musuh sebanyak-banyaknya. Kemenangan pun akan tim raih jika berhasil mencapai skor kill 50 terlebih dahulu.

Jika mati, kalian akan respawn di markas. Tak hanya frontline, ada pula beragam mode Deathmatch yang bisa kalian mainkan.

Ada team Deathmatch yang sama dengan frontline, namun dengan respawn secara acak. Selain itu, ada juga mode battle royale baru yang bisa kalian nikmati saat akun kalian mencapai level 8. Hal ini pun jelas menunjukkan bahwa battle royale bukan menjadi andalan utama Call of Duty: Mobile.

Fitur-fitur baru seperti Scorestreaks berperan membuat permainan jadi lebih atraktif. Di fitur ini, kalian bisa menggunakan senjata tambahan seperti UAV, Drone, hingga misil udara.

Selain itu, ada juga Operator Skill dimana  kalian bisa menggunakan senjata kelas berat seperti flamethrower atau gatling gun jika kalian berhasil mendapatkan banyak skor kill.

Secara keseluruhan, mode saling bunuh ini cukup sukses menghidupkan kembali euforia Team Deathmatch.

Keseruan yang disajikan serta objektif untuk menjadi yang terbaik membuatnya terasa seperti magnet yang terus menarik kita untuk memainkannya.

Namun, ada sedikit catatan dari mode ini. Meski pada awalnya terasa nagih, potensi jenuh pun makin lama akan terasa jika kalian terus bermain mode ini secara non-stop. Terlebih, tempo permainan Deathmatch terasa sangat cepat dibandingkan dengan battle royale.

Memang, untuk saat ini Tencent sukses mengakali repetisi dengan reward serta upgrade yang akan kalian dapatkan seiring meningkatnya level akun.

Namun, jika update stagnan, tak heran jika pada akhirnya mode ini ditinggalkan secara perlahan oleh para pemainnya.

Kelebihan lainnya adalah hadirnya sistem kelas. Ada enam kelas yang tersedia dengan skill yang berbeda. Misalnya Scout dengan kemampuan tracking musuh, Defender yang bisa membuat perisai, hingga Clown si pemanggil zombi alias si mainan robot pembawa bom.

Grafis yang ditawarkan memang terlihat fantastis. Namun, sejatinya bukan itu yang bikin game ini istimewa. Keistimewaan itu akan lebih terasa bagi penggemar setia waralaba CoD. Pasalnya tampilan visual game ini bisa dikatakan membangkitkan nostalgia.

Map-map pada mode Deathmatch bisa dikatakan jadi adaptasi dari “saudara” tuanya. Begitu juga beberapa lokasi pada map mode battle royale yang mengambil inspirasi dari game-game lama CoD.

Perlu kalian catat, kenikmatan visual yang ditawarkan game ini tentu butuh pengorbanan. Dilansir Hutmobile, untuk mendapatkan pengalaman standar, smartphone Android kalian setidaknya dilengkapi chipset Snapdragon 625 dengan RAM 3GB dan GPU Adreno 506.

Sedangkan untuk pengalaman visual yang lebih fantastis, setidaknya gadget kalian minimal udah punya chipset sekelas Snapdragon 660 serta RAM 4GB ke atas. Memang cukup demanding, tapi sepadan dengan apa yang akan kalian dapat.

Gimana? Tertarik memainkan game ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *